-->
NaF4MWN8Nqx4Mat9NGR7MGt4NSMkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE103

MAKALAH VIRTUAL LOCAL AREA NETWORK (VLAN)

MAKALAH VIRTUAL LOCAL AREA NETWORK (VLAN)



DAFTAR ISI
2.1    Konsep Virtual Local Area Network (VLAN)
2.1.1 Dasar VLAN
2.1.2 Membuat VLAN
2.2    VLAN Trunking Protocol
2.2.1 Trunking VLAN dengan ISL and 802.1q
2.2.2 Cisco VLAN Trunking Protocol (VTP)
2.2.3 Bonding (Port Trunking)
2.3 Infrastruktur VLAN
2.4  Menghitung Blok Subnet VLSM
3.1. Kesimpulan
3.2. Saran

BAB I

TEKNIK KONFIGURASI JARINGAN VLAN

2.1       Konsep Virtual Local Area Network (VLAN)
Sebelum memahami VLAN, suatu pengertian khusus mengenai definisi suatu LAN diperlukan. Sebuah LAN meliputi semua piranti jaringan yang berada pada satu broadcast domain. Suatu broadcast domain meliputi sekelompok piranti jaringan yang terhubung dalam suatu jaringan LAN yang bisa mengirim frame broadcast, dan semua piranti lainnya dalam satu segmen LAN yang sama akan menerima salinan frame broadcast tersebut. Jadi bisa dikatakan bahwa suatu jaringan LAN dan suatu broadcast domain pada prinsipnya adalah hal yang sama.
Tanpa VLAN, sebuah switch akan memperlakukan semua interface pada switch tersebut berada pada broadcast domain yang sama. Dengan kata lain, semua piranti yang terhubung ke switch berada dalam satu jaringan LAN. Dengan adanya VLAN, sebuah switch bisa mengelompokkan satu atau beberapa interface
(baca port) berada pada suatu VLAN sementara interface lainnya berada pada VLAN lainnya. Jadi pada dasarnya, switch membentuk beberapa broadcast domain. Masing-masing broadcast domain yang dibuat oleh switch ini disebut virtual LAN.

2.1.1 Dasar VLAN
Satu atau beberapa switch dapat membentuk suatu VLAN yang disebut sebuah broadcast domain. Sebuah VLAN dibuat dengan memasukkan beberapa
interface (port) kedalam suatu VLAN dan beberapa port lainnya yang berada pada VLAN lain.
Jadi, daripada semua port dari sebuah switch membentuk satu broadcast domain tunggal, sebuah switch bisa memecah menjadi beberapa VLAN tergantung kebutuhan dan konfigurasi. Untuk membantu memahami apa itu VLAN, dua gambar dibawah bisa digunakan untuk memahaminya.
Pada gambar pertama ini dua buah switch membentuk dua broadcast domain berbeda, masing-masing switch membentuk satu broadcast domain. Tidak ada VLAN dibuat disini.

Gambar  Dua Buah Switch dan Broadcast Domain
Secara alternatif, beberapa broadcast domain dapat dibuat dengan menggunakan sebuah switch tunggal. Seperti gambar diatas, gambar dibawah ini
menunjukkan    dua    buah    broadcast    domain    yang    sama    akan    tetapi diimplementasikan sebagai dua VLAN yang berbeda pada sebuah switch tunggal

Gambar Switch Tunggal dengan Dua Broadcast Domain

Untuk sebuah jaringan LAN kecil misal dirumahan atau dikantoran kecil, tidak ada alasan untuk membuat VLAN. Akan tetapi ada beberapa motivasi untuk membuat VLAN yang meliputi alasan berikut ini:
a.    Untuk mengelompokkan user berdasarkan departemen, atau mengelompokkan suatu group pekerja kolaborasi, ketimbang berdasarkan lokasi.
b.   Untuk mengurangi overhead dengan membatasi ukuran broadcast domain.
c.    Untuk menekankan keamanan yang lebih baik dengan menjaga piranti-piranti sensitif terpisah kedalam suatu VLAN.
d.   Untuk memisahkan traffic khusus dari traffic utama, misalkan memisahkan IP telephoni kedalam VLAN khusus terpisah dari traffic user.

2.1.2 Membuat VLAN
Kita bisa mengkonfigurasi interface/port dari switch dengan jalan mengasosiasikan port tersebut kepada suatu VLAN dengan konfigurasi semacam “interface 0/1 in VLAN1” atau “interface 0/2 in VLAN5” dan seterusnya. Hal semacam ini kita sebut sebagai VLAN berdasarkan port-base, suatu konfigurasi VLAN umum pada suatu switch yang mudah tanpa perlu mengetahui MAC address dari piranti. Akan tetapi diperlukan dokumentasi yang rapi agar bisa mengetahui piranti mana dengan cabling yang mana menuju Interface Switch yang mana, sehingga jelas piranti mana pada VLAN yang tepat.
Alternatif lain yang jarang digunakan adalah mengelompokkan pirantipiranti kedalam VLAN berdasarkan MAC address dari piranti-piranti tersebut. akan tetapi cara yang satu ini menciptakan overhead adminitrasi dengan konfigurasi masing-masing piranti dengan MAC address. Suatu register yang bagus untuk semua MAC address yang dikonfigurasikan kedalam berbagai switches dan asosiasi tiap piranti MAC ke setiap VLAN haruslah rapi dan selalu diupdate jika terjadi perubahan. Jika sebuah piranti berpindah ke port lain dan mengirim sebuah frame, piranti tersebut tetap berada pada VLAN yang sama. Hal ini mengijinkan piranti-piranti untuk bisa berpindah-pindah kemana saja dengan mudah dan tetap pada VLAN yang sama walau pindah ke port lain.

2.2       VLAN Trunking Protocol
VTP mendefinisikan Layer 2 messaging protocol yang mengijinkan switchswitch untuk bertukar informasi konfigurasi VLAN, sehingga hal ini akan menjaga konfigurasi VLAN tetap konsisten di seluruh jaringan. Secara singkat, jika VLAN 3 (VLAN nomor 3) akan digunakan dan diberi nama “accounting”, maka konfigurasi informasi dapat dilakukan pada satu switch, dan kemudian VTP akan mendistribusikan informasi ini ke seluruh switch yang ada.
VTP mengelola penambahan, penghapusan, dan pengubahan nama VLAN ke seluruh switch. Hal ini dapat meminimalkan miskonfigurasi dan ketidakkonsistenan konfigurasi yang dapat menyebabkan masalah, seperti duplikasi penamaan VLAN atau kesalahan pengesetan tipe VLAN.
Proses VTP diawali dengan pembuatan VLAN pada suatu switch yang disebut VTP server. Perubahan didistribusikan sebagai suatu broadcast ke seluruh jaringan. VTP client dan server akan “mendengar” VTP messages dan mengupdate masing-masing konfigurasi berdasarkan pesan tersebut. 
Berikut ilustrasi VTP beroprasi dalam jaringan switch:

Gambar VTP Beroprasi Dalam Jaringan Switch

2.2.1 Trunking VLAN dengan ISL and 802.1q
Jika menggunakan VLAN dalam jaringan yang mempunyai beberapa switch yang saling berhubungan antar VLAN, maka dibutuhkan VLAN Trunking.
Switch memerlukan cara untuk mengidentifikasikan VLAN dari mana frame tersebut dikirim saat mengirim sebuah frame ke switch lainnya. VLAN Trunking mengijinkan switch memberikan tagging setiap frame yang dikirim antar switches sehingga switch penerima mengetahui termasuk dari VLAN mana frame tersebut dikirim. Idenya bisa digambarkan pada gambar diagram berikut ini:
Gambar VLAN Trunking

Beberapa VLAN yang mempunyai anggota lebih dari satu switch dapat didukung dengan adanya VLAN Trunking. Misal, saat switch1 menerima sebuah broadcast dari sebuah piranti didalam VLAN1, maka switch tersebut perlu meneruskan broadcast ke switchB. Sebelum mengirim frame, switchA menambahkan sebuah header kepada frame Ethernet aslinya, header baru tersebut mengandung informasi VLAN didalamnya. Saat switchB menerima frame tersebut dari headernya bahwa frame tersebut berasal dari piranti pada VLAN1, maka switchB seharusnya meneruskan broadcast frame hanya kepada port2 pada VLAN1 saja dari switch tersebut.
Switch Cisco mendukung dua VLAN trunking protocol yang berbeda, InterSwitch Link (ISL) dan IEEE 802.1q. keduanya memberikan Trunking dasar, seperti dijelaskan pada gambar diatas. Akan tetapi pada dasarnya keduanya sangatlah berbeda.
Best Practices Jika Menggunakan VLAN diantaranya sebagai berikut:
1.   VLAN bukanlah harus diterapkan ke setiap jaringan LAN, akan tetapi bisa diterapkan pada jaringan dengan skala yang sangat besar pada jaringan enterprise dimana populasi host sangat besar jumlahnya atau diperlukan suatu kelayakan adanya suatu alasan keamanan. Kalau memang harus digunakan VLAN maka haruslah diusahakan sesederhana mungkin, intuitive dan dukungan dokumentasi yang sangat rapi.

2.   Pendekatan yang dianjurkan dalam penggunaan VLAN adalah berdasarkan lokasi atau fungsi departemen. Hal ini dilakukan untuk membatasi traffic broadcast (broadcast domain) kedalam hanya masing-masing segment VLAN saja. Jumlah VLAN yang didefinisikan pada switch LAN seharusnya mencerminkan kebutuhan fungsional dan management dalam suatu jaringan tertentu.

3.   Beberapa switches dapat secara transparan saling dihubungkan dengan menggunakan VLAN Trunking. VLAN Trunking memberikan mekanisme tagging untuk mentransport VLAN secara transparan melewati beberapa switches. VLAN didefinisikan dalam standards IEEE 802.3 dan IEEE 802.1q.
Beberapa informasi tambahan mengenai protocol VLAN Trunking:
   a.    Ada dua protocol VLAN Trunking utama saat ini, yaitu IEEE 802.1q dan Cisco ISL. Pemilihan protocol VLAN Trunking normalnya berdasarkan piranti Platform Hardware yang digunakan.
    b.   IEEE 802.1q adalah standard protocol VLAN Trunking yang memberikan tagging internal kedalam frame Ethernet yang ada sekarang. Hal ini dilakukan dalam hardware dan juga meliputi kalkulasi ulang header checksum-nya. Hal ini mengjinkan sebuah frame di tagging dengan VLAN dari mana datagram tersebut berasal dan menjamin bahwa frame dikirim kepada port didalam VLAN yang sama. Hal ini untuk menjaga kebocoran datagram antar VLAN yang berbeda.
    c.    ISL (Inter Switch Link)
      memberikan suatu tagging external yang dikemas disekitar frame asalnya.
  d.   Saat menghubungkan beberapa switch lewat sebuah trunk perlu dipastikan bahwa kedua switch yang terhubung VLAN Trunking tersebut mempunyai protocol VLAN Trunking yang sama. Penggunaan negosiasi otomatis dari protocol VLAN Trunking adalah tidak dianjurkan karena bisa terjadi kemungkinan salah konfigurasi.
  e.    Untuk penerapan VLAN dengan switch yang berskala besar sebuah protocol manajemen VLAN diperlukan misal VTP (VLAN Trunking Protocol). Protocol VTP memungkinkan VLAN didefinisikan sekali didalam suatu lokasi tunggal dan disinkronkan kepada switch-switch lainnya didalam administrative domain yang sama.

f.     Penerapan VLAN setidaknya dirancang dengan sangat bagus dan mudah dimanage. Dokumentasinya haruslah sangat rapi dan akurat dan dijaga selalu update agar membantu kegiatan support jaringan. Normalnya VLAN tidaklah dianjurkan untuk jaringan kecil (kurang dari 100 user pada satu lokasi), akan tetapi untuk business dengan skala menengah dan besar, VLAN adalah sangat mendatangkan keuntungan yang besar.

Satu hal yang pelu diingat bahwa dalam penerapan VLAN ini, komunikasi antar VLAN yang berbeda haruslah di routed. Dan jika dibutuhkan suatu interkoneksi VLAN kecepatan tinggi maka penggunaan Switch Layer 3 yang sangat performa adalah sangat diperlukan.

Menghubungkan beberapa VLAN antara switch yang berbeda, penggunaan protocol VLAN Trunking seperti ISL atau IEEE802.1q adalah diperlukan. Pastikan bahwa switch2 tersebut mempunyai dukungan protocol VLAN Trunking yang sama.

2.2.2 Cisco VLAN Trunking Protocol (VTP)
VTP adalah Cisco Layer 2 protokol pesan yang mengelola penambahan, penghapusan, dan nama dari VLAN pada seluruh jaringan dasar. VTP mengurangi administrasi yang aktif dalam jaringan. Bila mengkonfigurasi VLAN baru pada satu VTP server, yang didistribusikan melalui VLAN semua aktif dalam domain. Ini akan mengurangi administrasi, perlu mengkonfigurasi VLAN yang sama di mana-mana. VTP adalah Cisco-protokol yang tersedia pada sebagian besar produk Cisco Catalyst Keluarga. VTP memastikan bahwa semua aktif dalam VTP domain menyadari semua VLAN. Namun, ketika VTP dapat membuat lalu lintas yang tidak perlu. Semua unicasts dan tidak dikenal dalam siaran VLAN adalah banjir atas seluruh VLAN. Semua aktif dalam jaringan menerima semua siaran, bahkan dalam situasi di mana beberapa pengguna yang terhubung dalam VLAN. VTP pruning adalah fitur yang digunakan untuk menghilangkan (atau prun) ini tak perlu lalu lintas. Secara default, semua Cisco Catalyst aktif adalah VTP dapat dikonfigurasi untuk server. Ini cocok untuk jaringan kecil di mana besarnya
VLAN informasi kecil dan mudah disimpan dalam semua aktif (dalam NVRAM). Dalam jaringan yang besar, sebuah penghakiman panggilan harus dilakukan di beberapa titik saat NVRAM wasted penyimpanan yang diperlukan, karena pada setiap beralih digandakan. Pada tahap ini, maka administrator jaringan harus memilih beberapa dilengkapi dengan baik dan tetap aktif sebagai VTP server.

Semuanya lain berpartisipasi dalam VTP dapat berubah menjadi klien. Jumlah VTP server harus dipilih sehingga memberikan tingkat redundansi dikehendaki dalam jaringan. Berikut ini adalah bagian-bagian dalam VTP:

a.    Modus dari Operation Server
Dalam mode VTP server dapat dilakukan, membuat, memodifikasi, dan menghapus VLAN dan menentukan parameter konfigurasi lainnya (seperti VTP versi dan VTP pruning) untuk seluruh VTP domain. VTP server memberitahukan VLAN konfigurasi lainnya untuk aktif dalam VTP domain yang sama dan melakukan sinkronisasi dengan konfigurasi VLAN berdasarkan pemberitahuan yang diterima melalui trunk link VTP server modus standar.

b.   Transparan
VTP transparan aktif tidak berpartisipasi dalam VTP. Jika VTP tidak transparan maka tidak memberitahukan konfigurasi VLAN untuk aktif dan tidak melakukan sinkronisasi dengan konfigurasi VLAN berdasarkan pemberitahuan yang diterima.

c.    Klien
VTP perilaku klien dengan cara yang sama seperti VTP server, namun tidak dapat membuat, mengubah, atau menghapus VLAN VTP pada klien.

d.   Aktivitas Advertisements
Bila beralih menerima sebuah pemberitahuan paket, ia akan membandingkan VTP domain name-nya sendiri. Jika nama yang berbeda, yang hanya beralih mengabaikan paket. Jika nama yang sama, yang kemudian beralih membandingkan konfigurasi revisi ke revisi sendiri. Jika revisi sendiri konfigurasi yang lebih tinggi atau sama, paket yang diabaikan. Jika lebih rendah, pemberitahuan permintaan dikirim.

e.    Subset Advertisements
Bila akan menambah, menghapus, atau mengubah VLAN di switch, server akan beralih dimana perubahan yang dilakukan akan menambahkan
konfigurasi revisi dan masalah ringkasan advertisement, diikuti oleh satu atau beberapa subset pemberitahuan. Jika subset pemberitahuan berisi daftar VLAN informasi. Jika ada beberapa VLAN, lebih dari satu pemberitahuan subset mungkin diperlukan untuk memberitahukan semua.

f.     Permintaan Advertisement
VTP nama domain yang telah berubah. Saklarnya menerima VTP ringkasan pemberitahuan dengan revisi yang lebih tinggi dari pada konfigurasi sendiri.
Setelah menerima permintaan dari sebuah pemberitahuan, sebuah perangkat VTP mengirimkan sebuah pemberitahuan, diikuti oleh satu atau lebih subset pemberitahuan.
Untuk mengkonfigurasi sebuah konfigurasi berbasis ios beralih menjadi
VTP server, mengeluarkan perintah berikut:
SwitchA # VLAN database
SwitchA (VLAN) # vtp domain CiscoKits
SwitchA (VLAN) # vtp server
SwitchA (VLAN) # exit
Ini perintah mengkonfigurasi beralih menjadi VTP server dalam VTP domain CiscoKits. Perubahan akan disimpan dan revisi nomor incremented ketika keluar perintah dikeluarkan.
Untuk mengkonfigurasi sebuah VTP klien, jalankan perintah berikut:
SwitchB # VLAN database
SwitchB (VLAN) # vtp domain CiscoKits
SwitchB (VLAN) # vtp klien SwitchB (VLAN) # exit
VTP untuk menonaktifkan, mengatur mode untuk vtp transparan seperti:
SwitchC # VLAN database
SwitchC (VLAN) # vtp transparan
SwitchC (VLAN) # exit
VTP untuk memantau operasi dan status, gunakan salah satu:
SwitchA # vtp menunjukkan status
SwitchA # menunjukkan vtp counter

2.2.3 Bonding (Port Trunking)
Bonding adalah sama dengan port trunking. Bonding membolehkan untuk mengumpulkan banyak port ke single group. kombinasi efektif bandwidth ke dalam single koneksi. Bonding juga membolehkan untuk membuat jalur multigigabit traffic lalu lintas data ke dalam traffic area tertinggi di dalam network. sebagai contoh, dalam mengumpulkan tiga megabits port ke dalam sebuah tiga megabits trunk port. Ini sama artinya dengan punya satu interface dengan kecepatan tiga megabit.
Sangat disarankan dalam penggunaan vlan dengan bonding karena dapat meningkatkan ke bandwidth yang tersedia. Dibawah ini contoh script penggunaan vlan dan bonding:
#!/bin/bash modprobe 8021q
modprobe bonding mode=0 miimon=100
ifconfig eth0 down ifconfig eth1 down ifconfig eth2 down ifconfig bond0 0.0.0.0 ifconfig eth1 0.0.0.0 ifconfig eth2 0.0.0.0 ifconfig bond0 hw ether 00:11:22:33:44:55 ifconfig bond0 10.1.1.3 up ifenslave bond0 eth1 ifenslave bond0 eth2 vconfig add bond0 2 vconfig add bond0 3 vconfig add bond0 4 vconfig add bond0 5 vconfig add bond0 6
ifconfig bond0.2 192.168.2.1 netmask 255.255.255.0 broadcast 192.168.2.255 up ifconfig bond0.3 192.168.3.1 netmask 255.255.255.0 broadcast 192.168.3.255 up ifconfig bond0.4 192.168.4.1 netmask 255.255.255.0 broadcast 192.168.4.255 up ifconfig bond0.5 192.168.5.1 netmask 255.255.255.0 broadcast 192.168.5.255 up ifconfig bond0.6 192.168.6.1 netmask 255.255.255.0 broadcast 192.168.6.255 up


2.3      Konfigurasi VLAN dengan Router on Stick

Gambar Konfigurasi VLAN

Terlihat jelas VLAN telah merubah batasan fisik yang selama ini tidak dapat diatasi oleh LAN. Keuntungan inilah yang diharapkan dapat memberikan kemudahan-kemudahan baik secara teknis dan operasional.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam membangun jaringan VLAN ini adalah Buat design network, nama group VLAN dan Alokasi Subnet IP addres pada tiap VLAN.
1.  Konfigurasi Router-VLAN· Setting Hostname
    Setting Password
    Setting Subinterface
    Setting encapsulation dotlq x
    Setting ip address untuk segmentasi VLAN
2.  Konfigurasi MainSwitch· Setting HostName
    Setting Password
    Setting IP address VLAN
    Setting Trunking pada port yang terkoneksi dengan perangkat lain
    Setting VTP Server
    Setting VTP Domain
    Setting VTP Database
    Setting nomor dan nama-nama VLAN

3.  Konfigurasi Switch yang bergabung dalam VLAN
    Setting Hostname
    Setting Password
    Setting IP Address VLAN
    Setting Trunking pada port yang terkoneksi dengan perangkat lain
    Setting VTP Client
    Setting VTP Domain
    Setting Port untuk didaftarkan pada suatu VLAN

4.  Verifikasi koneksi dan VLAN membership
    Melihat pada switch port mana yang sudah di daftarkan ke VLAN
    Melihat VLAN membership dari setiap switch
    Cek Koneksi dengan ping ke setiap segment network dari berbagai tempat Sebenarnya konfigurasi VLAN cukup      sederhana hanya mengikuti
konfigurasi seperti dibawah ini. Akan tetapi pemahaman mendasar tentang konsep yang berhubungan dengan VLAN seperti trunking, protokol ISL atau IEE 802.1Q (dot1q) cukup membantu dalam trobleshooting ke depan.
             Konfigurasi VLAN        dengan router on stick        adalah VLAN     yang
memungkinkan komunikasi berbeda. Hal ini dimungkinkan dengan adanya Device
Router. Sebagai contoh adalah topologi sebagai berikut:
Gambar Topologi VLAN dengan Router on Stick

Pada router hanya satu fisical interface. Sedangkan yang dibutuhkan adalah dua subnet yang berbeda. Oleh karena itu dirouter perlu dibuatkan subinterface untuk masing-masing vlan.
Ø Konfigurasi pada Router adalah:
R0(config-if)#
R0(config-if)#
R0(config-if)#int f0/0.10
R0(config-subif)#encapsulation dot1q 10
R0(config-subif)#ip address 192.168.1.1 255.255.255.0
R0(config-subif)#
R0(config-subif)#int f0/0.20
R0(config-subif)#encapsulation dot1q 20
R0(config-subif)#ip address 192.168.2.1 255.255.255.0
R0(config-subif)#
R0(config-subif)#^Z
R0#
*Mar  1 00:25:49.183: %SYS-5-CONFIG_I: Configured from console by console
R0#
R0#exit
Enkapsulasi yang dipakai adalah dot1Q.

Ø Konfigurasi pada switch adalah:
SW0(config)#int f0/0
SW0(config-if)#switchport trunk encapsulation dot1q
SW0(config-if)#switchport mode trunk
SW0(config-if)#
SW0(config-if)#int f0/1
SW0(config-if)#switchport access vlan 10
SW0(config-if)#switchport mode access
SW0(config-if)#
SW0(config-if)#int f0/2
SW0(config-if)#switchport access vlan 20
SW0(config-if)#switchport mode access
SW0(config-if)#^Z
SW0#
*Mar  1 00:09:52.107: %SYS5CONFIG_I: Configured from console by console
SW0#wr
Building configuration…
[OK]
SW0(config)#end

Ø Konfigurasi pada PC 1:
IP 192.168.1.2
Subnet Mask 255.255.255.0
Default Gateway 192.168.1.1

Ø Konfigurasi pada PC 2:
IP 192.168.2.2
Subnet Mask 255.255.255.0
Default Gateway 192.168.2.1
2.3 Infrastruktur VLAN
Suatu pendekatan bersifat infrstruktur ke VLAN didasarkan pada golongan fungsional (departemen, workgroups, bagian, dan lain-lain) itu menyusun organisasi. Masing-Masing golongan fungsional, seperti akuntansi, penjualan, dan rancang-bangun, ditugaskan ke kepunyaannya dengan uniknya menggambarkan VLAN yang didasarkan pada 80/20 aturan, mayoritas lalu lintas jaringan diasumsikan untuk menjadi didalam fungsional kelompok ini, dan seperti itu didalam masing-masing VLAN. Didalam model ini, VLAN tumpang-tindih terjadi pada sumber daya jaringan bahwa harus bersama oleh berbagai workgroups.
Sumber daya ini adalah secara normal server, tetapi dapat juga meliputi pencetak, penerus menyediakan akses lemah, stasiun kerja berfungsi sebagai pintu gerbang, dan sebagainya. Jumlah VLAN tumpang-tindih model yang bersifat infrstruktur adalah minimal, menyertakan hanya server dibanding stasiun kerja pemakai membuat VLAN administrasi secara relative secara langsung. Secara umum, pendekatan ini sesuai dengan baik dalam organisasi memelihara bersih batasan-batasan organisatoris terpisah. Yang bersifat infrstruktur model adalah juga pendekatan kebanyakan dengan mudah dimungkinkan oleh solusi segera tersedia dan sesuai dengan mudah pada jaringan yang menyebar.
Lebih dari itu, pendekatan ini tidak memerlukan pengurus jaringan untuk mengubah bagaimana memandang jaringan, dan memerlukan suatu biaya lebih rendah tentang penyebaran. Karena pertimbangan ini, kebanyakan organisasi perlu mulai dengan suatu bersifat infrstruktur mendekati ke VLAN implementasi. Seperti dapat dilihat contoh di dalam Gambar 4.7, e-mail server adalah suatu anggota dari semua departemen VLAN, sedangkan akuntansi server database hanya suatu anggota akuntansi VLAN.
Gambar Infrastruktur VLAN
2.4  Menghitung Blok Subnet VLSM
Variable Length Subnet Mask bermakna mengalokasikan IP yang menujukan sumber daya ke subnets menurut kebutuhan individu dibanding beberapa aturan umum network wide. IP yang me-routing protokol yang didukung oleh Cisco, OSPF, IS-IS Rangkap, BGP-4, dan EIGRP medukungan “classless” atau VLSM rute.
Menurut Sejarah, EGP tergantung pada class alamat IP, dan benar-benar menukar angka-angka jaringan ( 8, 16, atau 24 bit) dibanding IP alamat ( 32 angka-angka bit) RIP dan IGRP menukar jaringan dan subnet angka-angka di 32 bit, pembedaan antara network number, subnet number, dan host number menjadi perihal konvensi dan tidak yang ditukar di routing protokol. Protokol akhir-akhir ini membawa salah satu prefix length ( jumlah bit berdekatan dalam alamat) atau subnet mask dengan masing-masing alamat, menandakan porsi 32 bit yang sedang di-routing.
Suatu contoh sederhana dari suatu jaringan yang menggunakan variable length subnet mask ditemukan di rancangan Cisco. Ada beberapa switchl di dalam rancang bangunan, yang diatur FDDI dan Ethernet dan yang dinomori untuk mendukung 62 host pada masing-masing switch subnet dalam keadaan yang sebenarnya, barangkali 15-30 host (printers, workstations, disk servers) secara fisik dipasang untuk masing-masing. Bagaimanapun, banyak insinyur juga mempunyai ISDN atau Frame Relay terhubung ke rumah, dan suatu subnet kecil di sana. Kantor pusat ini secara khas mempunyai sebuah router atau dua dan suatu X workstation atau terminal dengan suatu PC atau Macintosh yang bekerja dengan baik. Dengan demikian, pada umumnya diatur untuk mendukung 6 host, dan beberapa diatur untuk 14 host. Hubungan titik ke titik tidak diberikan nomor. Penggunaan satu ukuran sesuai dengan semua menunjukkan rencana, seperti ditemukan di RIP atau IGRP, setiap kantor pusat akan diatur untuk mendukung 62 host penggunaan angka-angka pada hubungan antara titik lebih lanjut akan menjadi bengkak. Dalam Variable Length Subnet Mask dengan mengatur router untuk menggunakan suatu protokol (OSPF atau EIGRP) yang mendukungan itu, dan mengatur subnet mask dari berbagai alat penghubung dalam alamat ip menghubungkan sub-command. Untuk menggunakan supernets, harus lebih lanjut mengatur penggunaan route kelas ip.
Contoh:
Diberikan Class C network 204.24.93.0/24, ingin di subnet dengan kebutuhan berdasarkan jumlah host: netA=14 hosts, netB=28 hosts, netC=2 hosts, netD=7 hosts, netE=28 hosts. Secara keseluruhan terlihat untuk melakukan hal tersebut di butuhkan 5 bit host (25-2=30 hosts) dan 27 bit net, sehingga:
netA (14 hosts): 204.24.93.0/27 => ada 30 hosts, tidak terpakai 16 hosts netB (28 hosts): 204.24.93.32/27 => ada 30 hosts, tidak terpakai 2 hosts netC (2 hosts): 204.24.93.64/27 => ada 30 hosts, tidak terpakai 28 hosts netD (7 hosts): 204.24.93.96/27 => ada 30 hosts, tidak terpakai 23 hosts netE (28 hosts): 204.24.93.128/27 => ada 30 hosts, tidak terpakai 2 hosts Dengan demikian terlihat adanya ip address yang tidak terpakai dalam jumlah yang cukup besar. Hal ini mungkin tidak akan menjadi masalah pada ip private akan tetapi jika ini di alokasikan pada ip public maka terjadi pemborosan dalam pengalokasian ip public tersebut. Untuk mengatasi hal ini dapat digunakan metoda
VLSM, yaitu dengan cara sebagai berikut:
1.   Buat urutan berdasarkan penggunaan jumlah host terbanyak (14,28,2,7,28 menjadi 28,28,14,7,2).
2.   Tentukan blok subnet berdasarkan kebutuhan host:
28 hosts + 1 network + 1 broadcast = 30  menjadi 32 ip ( /27 )
14 hosts + 1 network + 1 broadcast = 16 menjadi 16 ip ( /28 )
7 hosts + 1 network + 1 broadcast = 9 menjadi 16 ip ( /28 )
2 hosts + 1 network + 1 broadcast = 4 menjadi 4 ip ( /30 )
Sehingga blok subnet-nya menjadi:
netB (28 hosts): 204.24.93.0/27 => ada 30 hosts, tidak terpakai 2 hosts netE (28 hosts): 204.24.93.32/27 => ada 30 hosts, tidak terpakai 2 hosts netA (14 hosts): 204.24.93.64/28 => ada 14 hosts, tidak terpakai 0 hosts netD ( 7 hosts): 204.24.93.80/28 => ada 14 hosts, tidak terpakai 7 hosts netC ( 2 hosts): 204.24.93.96/30 => ada 2 hosts, tidak terpakai 0 hosts
Contoh menghitung blok subnet VLSM:
Diketahui IP address 130.20.0.0/20. Hitung jumlah subnet terlebih dahulu menggunakan CIDR, maka didapat:
11111111.11111111.11110000.00000000 = /20
Jumlah angka binary 1 pada 2 oktat terakhir subnet adalah 4 maka jumlah subnet adalah (2x) = 24 = 16. Maka tiap blok subnetnya adalah :
Blok subnet ke 1 = 130.20.0.0/20
Blok subnet ke 2 = 130.20.16.0/20
Blok subnet ke 3 = 130.20.32.0/20, Dan seterusnyas ampai dengan
Blok subnet ke 16 = 130.20.240.0/20
Selanjutnya ambil nilai blok ke 3 dari hasil CIDR yaitu 130.20.32.0 kemudian:
     Pecah menjadi 16 blok subnet, dimana nilai 16 diambil dari hasil perhitungan subnet pertama yaitu /20 = (2x) = 24 = 16
     Selanjutnya nilai subnet di ubah tergantung kebutuhan untuk pembahasan ini gunakan /24, maka didapat 130.20.32.0/24 kemudian diperbanyak menjadi 16 blok lagi sehingga didapat 16 blok baru yaitu : Blok subnet VLSM 1-1 = 130.20.32.0/24
Blok subnet VLSM 1-2 = 130.20.33.0/24
Blok subnet VLSM 1-3 = 130.20.34.0/24
Blok subnet VLSM 1-4 = 130.20.35.0/24, Dan seterusnya sampai dengan
Blok subnet VLSM 1-16 = = 130.20.47/24
     Selanjutnya ambil kembali nilai ke 1 dari blok subnet VLSM 1-1 yaitu
130.20.32.0 kemudian pecah menjadi 16:2 = 8 blok subnet lagi, namun oktat ke 4 pada Network ID yang diubah juga menjadi 8 blok kelipatan dari 32 sehingga didapat :
Blok subnet VLSM 2-1 = 130.20.32.0/27
Blok subnet VLSM 2-2 = 130.20.32.32/27
Blok subnet VLSM 2-3 = 130.20.33.64/27
Blok subnet VLSM 2-4 = 130.20.34.96/27
Blok subnet VLSM 2-5 = 130.20.35.128/27
Blok subnet VLSM 2-6 = 130.20.36.160/27
Blok subnet VLSM 2-1 = 130.20.37.192/27
Blok subnet VLSM 2-1 = 130.20.38.224/27




BAB II
PENUTUP

 3.1. Kesimpulan

Berdasarkan uraian yang telah penulis kemukakan pada bab-bab sebelumnya, maka penulis menarik kesimpulan sebagai berikut :
Ø  Jadi dengan menggunakan konsep jaringan VLAN, jaringan dapat dibagi-bagi berdasarkan grup.
Ø  Jaringan bisa lebih aman dan bisa termanage dengan mudah oleh seorang administrator jaringan.
Ø  Mempermudah bagi pekerjaan seorang administrator jaringan dalam melakukan pengecekan dan monitoring clientnya.
Ø  Sebuah Virtual LAN merupakan fungsi logik dari sebuah switch. Fungsi logik ini mampu membagi jaringan LAN ke dalam beberapa jaringan virtual.
Jaringan virtual ini tersambung ke dalam perangkat fisik yang sama.
3.2. Saran
Sebaiknya untuk sistem jaringan yang ada pada perkantoran, gedung perkuliahan, dan sekolah hendaknya menerapkan jaringan VLAN. Hal ini untuk memudahkan dalam monitoring terhadap client.





Share This Article :
Muara Pendidikan

Situs yang membahas seputar Operator, Tekno, Android, Komputer, Driver, Anti Virus, Ujian Nasional, UKK, Semester, PMP, Dapodik, Erapot, PKG, teknologi, kesehatan, pendidikan, pendidikan karakter, pendidikan anak.

3594352797841265890